Tradisi Grebeg Budaya Yang Membumi Di Kasultanan Ngayogyakarta

DSC_8619Sejarah
Gebeg atau “ngalap berkah” yang artinya mencari berkah dalam bahasa indonesia, merupakan acara rutin yang di gelar di tanah Mataram islam, khususnya di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari berbagai sumber pengartian Grebeg yang lebih terperinci berasal dari kata kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai, biasanya grebeg di awali dengan acara sekaten yang sekarang lebih di kenal dengan “pasar malam”, namun perlu di ketahui upacara grebeg ini bukan berasal dari kerajaan Mataram Islam itu sendiri melainkan sudah ada semenjak kerajaan Majapahit masih ada, atau sebelum ajaran islam datang di tanah Jawa ini atau sekitar abad ke-8 ( Suryo Negoro, 2001 81-82) jadi seperti yang dikisahkan bahwa semenjak kerajaan Majapahit runtuh dan muncul kerajaan Islam baru bernama kerajaan Demak, tradisi ini masih ada, namun pada masa kerajaan Demak acara ini di hapuskan, hal tersebut membuat rakyat pada waktu itu kecewa. Dari kekecewaan itu munculah ide grebeg akan di hidupkan kembali namun penyelenggaraannya di dekat masjid, tujuannya untuk memikat rakyat yang pada wktu itu mayoritas masih menganut agama Hindu (Majapahit) untuk memeluk agama Islam (Demak). Seiring berjalannya waktu grebeg bukan lagi menjadi penyebar agama Islam, tapi menjadi ikon budaya terutama di tanah Mataram (Yogyakarta dan Solo).

1
Prosesi acara
Seperti yang sudah di tulis di atas, sebelum acara grebeg digelar, acara di awali dengan acara sekaten atau pasar malam, setelah itu pada tanggal yang sudah di tentukan, biasanya grebeg dilaksanakan pada peringatan hari-hari besar Islam, Seperti Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi, atau orang jawa lebih familiar dengan “Mulud” namun, grebeg yang paling meriah adalah grebeg mulud. Acara ini diwali di dalam keraton Ngayogyakarta sejak pagi hari bersamaan perajurit keraton atau “Bergada” bersiap-siap, dua perangkat gamelan Kyai Nogowologo dan Kyai Gunturmadu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton, dan di tabuh atau dibunyikan, itulah tanda awal prosesi grebeg. Oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah “Bedhol Songsong”. Setelah semua perajurit siap, acara selanjutnya adalah parade Bergada, sekedar informasi pasukan Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I sekitar abad 17. Tepatnya pada tahun 1755 M.

8

Prajurit yang terdiri atas pasukan-pasukan infanteri dan kavaleri tersebut sudah mempergunakan senjata-senjata seperti tombak, padang, senjata api bedil dan meriam (meriam sekarang sudah tidak digunakan). Namun semenjak masa Pemerintahan Hamengkubuwono III Inggris membubarkan kesatuan perang Kasultanan Ngayogykarta. Di dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani oleh Sultan Hamengkubuwono III dan Raffles, dituliskan bahwa Kesultanan Ngayogyakarta tidak dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Dan bergada ini di kurangi lagi pada masa kolonial Belanda atau pada pemerintahan Hamengkubuwono VII dan sekarang hanya terisisa 13 macam Bergada meliputi: Kesatuan Sumoatmojo, Ketanggung, Patangpuluh, Wirobrojo, Jogokaryo, Nyutro, Dhaeng, Jager, Prawirotomo, Mantrijero, Langenastro, Surokarso dan Bugis.

5
Di sesi ini semua perajurit kraton Ngayogyakarta memperlihatkan kesatuannya dan membentuk formasi-formasi khasnya menurut kesatuannya. Setelah itu barulah ketujuh gunungan keluar dari keraton sebagai tanda sedekah Raja dalam hal ini Hamengkubuwono X kepada rakyat Yogyakarta. Sekedar informasi lagi, Gunungan berasal dari (kata gunung) itu terdiri dari 24 jodang besar, yaitu 12 buah jodang gunungan laki-laki dan 12 buah jodang gunungan perempuan.

11

Disela-sela itu terdapat anak-anak (saradan) dan 24 buah ancak-canthaka. Gunungan lanang (laki-laki) ini tingginya 1,5 meter ditaruh diatas sebuah nampan besar yang diletakkan diatas papan kayu yang berukuran 2×1,5 meter. Pucuk dari pada Gunungan yang disebuut Musataka (kepala) dihiasi dengan kue-kue penganan yang terbuat dari beras dalam bentuk ikan yang disebut Baderan . Lima buah untaian bunga melati masing-masing ujungnya adalah bunga Kantil digantungkan di Baderan . Penganan dari beras yang disebut Bendul yang berbentuk bola-bola kecil mengelilingi Musataka dan juga sederet telor asin. Gunungan ini juga dihiasi dengan kacang panjang dan cabai merah, ujung dari setiap cabai merah diikatkan sebuah kue kucu yang berbentuk seperti upil-upil yang berbentuk segitiga, diatas nampan tersebut yang ditutupi dengan kain bercorak bangun tulak diletakkan 12 nasi tumpeng dan berbagai macam lauk pauk yang ditaruh diatas wadah yang terbuat dari daun pisang, 4 buah kelapa muda dan sepasang daun pisang muda, masing-masing sudut dari nampan tersebut digantungkan rangkaian bunga melati. (Suryo Negoro, 2001:82)

10
Bentuk gunungan perempuan mirip dengan bokor atau piala dalam ukuran besar. Pada bagian dasar lebih kecil dari bagian atas, mirip dengan bentuk piala yang diletakkan terlentang, sedang dari bagian atas yang paling lebar itu ke puncak, membentuk keruncut yang tidak runcing, nampak seperti tutup piala tersebut. Bagian yang kelihatan seperti tangkai pegangan tutup piala inilah yang disebut mustaka gunungan perempuan itu. Mustaka gunungan perempuan itu berbentuk seperti gunungan wayang kulit, diberi tangkai panjang, dan diikatkan dengan tiang yang mencakup pada asdhumpal. Disekitar mustaka berbentuk gunungan wayang tersebut diikatkan 60 buah ilat-ialatan, yang masing-masing bertangkai. Bagian tubuh gunungan perempuan tersebut ditutup dengan kulit batang pisang, yang disusun berjajar berdiri, dengan bagian yang cekung terletak di bagian dalamnya. Pada tubuh gunungan inilah, di sana-sini digantungkan hiasan, ialah 4 buah eblek dan 11 buah tedheng, yang digantungkan dengan tali-tali. Agar gunungan putri (perempuan) ini dapat kuat melekat pada dhumpal, maka tiang kuat ditancapkan kuat-kuat pada dhumpal yang merupakan kaki gunungan. Pada bagian dasar tiang itu, ditaruhlan sebakul wajik. (Suryo Negoro, 2001:83). Gunungan bentuknya seperti tubuh gender ialah yoni. Oleh sebab itu dinamakan “gegenderan”. Segala sesuatu tidak berbeda dengan gunungan laki-laki di atas. Antara gunungan laki-laki tersebut terdapat anak-anakan yang dinamakan “saradan”. Jodhang yang dipergunakan untuk mengusung gunungan tersebut diberi hiasan yang mengandung makna tersendiri, serta mempunyai arti simbolis, antara lain diberi kampuh (penutup dari setengah tingginya ke bawah) berupa kain ‘bangotulak’ yang indah, megah dan berwibawa itu.
Di akhir prosesi, gunungan itu dibawa ke masjid Agung Kauman, yang terletak di barat alun-alun utara Yogyakarta dan sebelum di perebutkan, gunungan terlebih dahulu di Do’akan sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas limpahan berkah. Kemudian 5 gunungan di tinggal di pelataran masjid Agung untuk di perebutkan masyarakat, 2 gunungan lainnya di antar ke kediaman Pakualaman, disana juga akan di perebutkan oleh masyarakat yang sudah menunggu, dan terakhir satu gununagn lagi di bawa ke Bangsal Kepatihan, terletak di sekitaran Malioboro untuk di perebutkan oleh para pasukan atau Bergada keraton Ngayogyakarta.

6
Makna dari acara grebeg mulud di Kasultanan Ngayogyakarta adalah, grebeg sebagai aset budaya yang sudah tidak bisa di pisahkan dengan masyarakat di tanah Mataram (Yogyakarta ataupun Solo), grebeg sebagai alat untuk media sosialisasi sesama masyarakat dan juga sebagai penghubung dan tanda kehamonisan raja dan masyarakatnya. Grebeg juga penanda lestarinya budaya di kasultanan Ngayogyakarta, hal tersebut dapat dilihat dari antusisanya masyarakat untuk mendapatkan berkah dari gunungan yang di percaya mendatangkan berkah.

5

3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s