De Tour 1: Menyusuri Jejak-Jejak Kanjeng Sunan Kalijaga dan Menikmati Keindahan Alam Gunung Kidul.

Panorama-5

Di awal pertualangan series ini, kami mengupas tempat yang dulu konon Kanjeng Sunan Kalijaga pernah datang ke tempat itu. Sunan Kalijaga memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa, karena beliau adalah salah satu penyebar agama Islam di tanah jawa ini. Memang, beliau lahir di Tuban sebagai putra dari Arya Teja III, tetapi perjalanan kami bukan berawal dari Tuban, namun kami berangkat ke daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, mengapa? Karena sebenarnya kami hanya bermaksud meng-explore keindahan alam Gunung Kidul, tapi tanpa di duga tempat yang kami datangi adalah tempat yang dulu konon pernah disingahi Sunan Kalijaga. Perjalanan kami awali dari Gua Rancang Kencana, yang berada di Playen tempat itu satu wisata dengan air terjun Sri Gethuk, kemudian kami beralih ke utara Gunung Kidul, di perbatasan Yogyakarta dengan Klaten, Jawa Tengah, tepatnya di air terjun Luweng Sampang, yang berada di desa Sampang, kec. Gedangsari, Kab. Gunung Kidul, Yogyakarta.

Goa Rancang Kencana.

Akses dan Lokasi

Goa ini terletak di desa Bleberan, Kec. Playen, Gunung Kidul Yogyakarta, letaknya cukup mudah diakses dari jln. Wonosari, asal jeli melihat tanda. Kondisi jalan yang lumayan bagus membuat goa ini sudah tidak asing lagi, jalan yang cukup beraspal, namun begitu masuk objeknya berganti menjadi tanah putih (hati-hati tanah jenis ini mudah sekali menyelipkan ban). Namun kesemuanya menurut kami aksesnya mudah, walaupun untuk fasilitasnya masih dalam pembangunan dan pengembangan. Cukup dengan tiket 5000rb/orang kita dapat menikmati 2 objek wisata alam berupa Goa Rancang Kencana dan air terjun Sri gethuk.

rancang-kencana

Jenis Goa dan Sejarahnya
Kami melihat goa ini sebaga goa dengan tipe runtuhan, goa model ini juga dapat kita temukan di Goa Luweng Jomblang yang masih terletak di Gunung Kidul tepatnya di Kecamatan Semanu. Hal ini terlihat dari mulut goa yang vertikal, meski tidak securam Luweng Jomblang namun akan terlihat tipe goa ini bila melihat dari bawah.
Goa rancang kencana ini terkenal karena  adanya sejarah yang banyak sekali, sejarah yang paling besar terjadi tahun 1700an yaitu tempat persembunyian laskar Mataram bernama Kyai Putut Linggo Bowo, dan Kyai Soreng pati, disini mereka mentukan taktik dan strategi untuk berperang, karena itu asa nama goa ini adalah Rancang=merancang, Kencana=emas, yang berarti merancang taktik yang brilian. Namun, berbagai penelitian menemukan goa ini sudah berpenghuni sejak zaman megalithikum, terbukti ditemukannya fosil berusia 3000 tahun serta arca macan dan nandi (sapi) tetapi sekarang arca macan sudah berada di dinas purbakala.
DSC_8691
Goa rancang kencana ini terdapat 3 lokasi, atau ruangan, lokasi pertama adalah aula (dahulu masyarakat setempat sempat membuat lapangan bulu tangkis) memang aula ini luas dengan fokus Pohon Tlumpi (terminalia edulis).

DSC_8685

Beranjak ke ruang tengah yang cukup sempit terdapat batu yang dulu untuk bertapa, ruangan ini cukup kecil namun konon bila ada orang yang memiliki indra keenam sudah akan merasakan perbedaan yang berarti. Berlajut ke ruang ketiga atau ruang terakhir, di sini terdapat banyak sekali bukti sejarah dan mitos. Di ruang ini dapat kita temukan seperti batu kunci, lorong merapi serta bukti sejarah yang cukup menjadi ikon yaitu prasasti “Prastya Bhinekaku” di prasasti ini tertulis nama-nama orang dan burung garuda Pnacasila yang di lukis mengguanakan arang. Makna dari prasasti “Prastya Bhinekaku”  adalah kesetiaan orang-orang yang namanya di tulis di dinding goa tersebut pada NKRI dan Presiden Soekarno karena pada waktu itu terjadi pengulingan ideologi Pancasila yang terkenal dengan gerakan G30 S PKI. Dari sisi mitos disini dipercaya sebagai lorong menuju daerah sekitar G.Merapi yang berada di utara Yogyakarta, dengan mengunakan batu kunci sebagai pembukanya, namun tidak semua orang dapat melihat, dan satu lagi tempat tersebut merupaka ruang tidur (kamar) Kyai Soreng pati, tepatnya di bawah gambar garuda sisi kiri, di batu cekungan.

DSC_8684

Sesuai judul di atas mengapa ada nama Kanjeng Sunan Kalijaga karena konon Sunan kalijaga membuat tongkatnya berasal dari pohon yang berada di goa Rancang Kencana, oleh karena itu kayu dari pohon tlumpi banyak dipesan orang sebagai pembuat tongkat dan gagang keris. Satu fakta cerita yang menunjukkan sunan kalijaga pernah singgah namun kapan? Tidak ada bukti sejarah yang pasti.

air-terjun

Setelah menyusuri goa yang panjangnya hanya 45m tersebut tidak sah bila kita tidak pergi ke air terjun Sri Gethuk, apalagi tiket masuknya adalah satu paketan dengan air terjun tersebut. Air terjun ini oleh penduduk sekitar sering nenyebutnya air terjun “Slempret”, wisata ini pernah mengalami longsor sehingga harus berhati-hati bila mandi di bawahnya. Aksesnya sangat mudah ada dua cara pertama dengan berkendara dan kedua dengan jalan kaki atau tracking.

pemandanga

Sesampainya di lokasi kita pun dapat memilih akses menuju kesana, karena air terjun ini terletak di tebing di bibir sungai. Pertama kita dapat menumpang perahu motor dengan tarif 5000rb/orang, kedua kembali dengan jalan kaki melewati bibir sungai. Sampai disana anda akna dimanjakan oleh kesejukan dan kejernihan airnya, dan anda dapat bemain bermacam-macam permainan seperti berenang, flying fox atau pun mandi di air terjun.

DSC_8750

Air Terjun Luweng Sampang

Masih terletak di Gunung Kidul tepatnya disebelah utara perbatasan Yogyakarta (Gunung Kidul) dengan Jawa Tengah (Klaten). Kita dapat menemukan air terjun Luweng sampang, memang air terjun ini kurang familiar dibandingkan Sri Gethuk, namun air terjun ini mempunyai karakter tersendiri berupa ukiran-ukiran erosi air seperti berada di Grand Canyon AS.

DSC_8785_01

Akses dan Lokasi.

Air terjun Luweng Sampang terletak di desa Jogoprayan, Kec. Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah dengan desa Sampang Kec. Gedangsari, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta. Andas bisa menempuh dari Wonosari, tepatnya pertigaan lampu merah pertama dari jln. Wonosari dar arah barat, kemudian ambil kiri. Di jalur ini cukup berbahaya, karena anda akan melewati punggung pegununggan yang naik tajam kemudian menuruni jalan yang cukup curam dan jalan yang kurang mulus, anda harus berhati-hati karena langsung berbatasan dengan jurang. Setelah itu anda akan menjumpai pertigaan anda ambil kiri ke arah barat sampai ketemu lagi pertigaan anda ambil kiri lagi, sesudah itu tinggal bertanya dengan penduduk sekitar. Sedangkan dari klaten anda dapat menempuh dari jalan Jogja-Solo, setelah masuk klaten kemudian anda mencari lokasi kecamatan Gantiwarno, kemudian jangan lupa bertanya kepada penduduk sekitar. Mengapa kami menyarankan anda bertanya? Alasan utamanya adalah kurangnya informasi penunjuk jalan dan rambu-rambu tentang keberadaan objek wisata tersebut. Setelah sampai mintalah ijin kepada katakanlah juru kunci objek wisata, karena disini belum ada kepengurusan yang sistemik. Terakhir jangan lupa membayar seiklasnya karena; pertama, untuk pengembangan lokasi wisata dan kedua, untuk biaya parkir kendaraan anda.
Karakteristik dan Cerita

Secara topografi air terjun Luweng sampang ini terletak di perbatasan dataran rendah dengan pegunungan. Ini akan terlihat bila anda milihat sekitar aliran sungai air terjun tersebut, anda akan melihat kontur tanah yang berundak seperti patahan lempeng. Di air terjun luweng sampang sendiri mempunyai karakteristik bebatuan yang tererosi oleh air, hal tersebut dapat dilihat di batuan sekitar air terjun.

DSC_8812
Untuk fakta sejarah kami tidak menemukan catatan atau bukti-bukti otentik. Namun, kami mendapatkan cerita dari penduduk sekitar bahwa konon dahulu di atas air terjun itu pernah digunakan bertapa oleh Sunan Kalijaga sebelum meneruskan perjalananya ke utara, entah benar atau tidak tergantung anda yang menyikapai, yang jelas air terjun tersebut termasuk di Wingitkan (sakralkan) sering pula ada orang yang bertama untuk menenagkan diri. Terlepas dari itu semua ada sisi positifnya, karena sesuatu yang diwingitkan akan terjaga keaslian dan kemurnianya.

DSC_8816
Inilah seri perdana De Tour, kami akan mengenguak keindahan bumi Indonesia di De tour series selanjutnya, semoga Tuhan selalu memberi kami kesempatan waktu serta dimudahkan segalanya. Salam traveler.

 

 

DSC_8668
Thanks to local guide Yusuf Arif and my beloved Wulan

Tradisi Grebeg Budaya Yang Membumi Di Kasultanan Ngayogyakarta

DSC_8619Sejarah
Gebeg atau “ngalap berkah” yang artinya mencari berkah dalam bahasa indonesia, merupakan acara rutin yang di gelar di tanah Mataram islam, khususnya di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari berbagai sumber pengartian Grebeg yang lebih terperinci berasal dari kata kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai, biasanya grebeg di awali dengan acara sekaten yang sekarang lebih di kenal dengan “pasar malam”, namun perlu di ketahui upacara grebeg ini bukan berasal dari kerajaan Mataram Islam itu sendiri melainkan sudah ada semenjak kerajaan Majapahit masih ada, atau sebelum ajaran islam datang di tanah Jawa ini atau sekitar abad ke-8 ( Suryo Negoro, 2001 81-82) jadi seperti yang dikisahkan bahwa semenjak kerajaan Majapahit runtuh dan muncul kerajaan Islam baru bernama kerajaan Demak, tradisi ini masih ada, namun pada masa kerajaan Demak acara ini di hapuskan, hal tersebut membuat rakyat pada waktu itu kecewa. Dari kekecewaan itu munculah ide grebeg akan di hidupkan kembali namun penyelenggaraannya di dekat masjid, tujuannya untuk memikat rakyat yang pada wktu itu mayoritas masih menganut agama Hindu (Majapahit) untuk memeluk agama Islam (Demak). Seiring berjalannya waktu grebeg bukan lagi menjadi penyebar agama Islam, tapi menjadi ikon budaya terutama di tanah Mataram (Yogyakarta dan Solo).

1
Prosesi acara
Seperti yang sudah di tulis di atas, sebelum acara grebeg digelar, acara di awali dengan acara sekaten atau pasar malam, setelah itu pada tanggal yang sudah di tentukan, biasanya grebeg dilaksanakan pada peringatan hari-hari besar Islam, Seperti Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi, atau orang jawa lebih familiar dengan “Mulud” namun, grebeg yang paling meriah adalah grebeg mulud. Acara ini diwali di dalam keraton Ngayogyakarta sejak pagi hari bersamaan perajurit keraton atau “Bergada” bersiap-siap, dua perangkat gamelan Kyai Nogowologo dan Kyai Gunturmadu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton, dan di tabuh atau dibunyikan, itulah tanda awal prosesi grebeg. Oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah “Bedhol Songsong”. Setelah semua perajurit siap, acara selanjutnya adalah parade Bergada, sekedar informasi pasukan Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I sekitar abad 17. Tepatnya pada tahun 1755 M.

8

Prajurit yang terdiri atas pasukan-pasukan infanteri dan kavaleri tersebut sudah mempergunakan senjata-senjata seperti tombak, padang, senjata api bedil dan meriam (meriam sekarang sudah tidak digunakan). Namun semenjak masa Pemerintahan Hamengkubuwono III Inggris membubarkan kesatuan perang Kasultanan Ngayogykarta. Di dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani oleh Sultan Hamengkubuwono III dan Raffles, dituliskan bahwa Kesultanan Ngayogyakarta tidak dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Dan bergada ini di kurangi lagi pada masa kolonial Belanda atau pada pemerintahan Hamengkubuwono VII dan sekarang hanya terisisa 13 macam Bergada meliputi: Kesatuan Sumoatmojo, Ketanggung, Patangpuluh, Wirobrojo, Jogokaryo, Nyutro, Dhaeng, Jager, Prawirotomo, Mantrijero, Langenastro, Surokarso dan Bugis.

5
Di sesi ini semua perajurit kraton Ngayogyakarta memperlihatkan kesatuannya dan membentuk formasi-formasi khasnya menurut kesatuannya. Setelah itu barulah ketujuh gunungan keluar dari keraton sebagai tanda sedekah Raja dalam hal ini Hamengkubuwono X kepada rakyat Yogyakarta. Sekedar informasi lagi, Gunungan berasal dari (kata gunung) itu terdiri dari 24 jodang besar, yaitu 12 buah jodang gunungan laki-laki dan 12 buah jodang gunungan perempuan.

11

Disela-sela itu terdapat anak-anak (saradan) dan 24 buah ancak-canthaka. Gunungan lanang (laki-laki) ini tingginya 1,5 meter ditaruh diatas sebuah nampan besar yang diletakkan diatas papan kayu yang berukuran 2×1,5 meter. Pucuk dari pada Gunungan yang disebuut Musataka (kepala) dihiasi dengan kue-kue penganan yang terbuat dari beras dalam bentuk ikan yang disebut Baderan . Lima buah untaian bunga melati masing-masing ujungnya adalah bunga Kantil digantungkan di Baderan . Penganan dari beras yang disebut Bendul yang berbentuk bola-bola kecil mengelilingi Musataka dan juga sederet telor asin. Gunungan ini juga dihiasi dengan kacang panjang dan cabai merah, ujung dari setiap cabai merah diikatkan sebuah kue kucu yang berbentuk seperti upil-upil yang berbentuk segitiga, diatas nampan tersebut yang ditutupi dengan kain bercorak bangun tulak diletakkan 12 nasi tumpeng dan berbagai macam lauk pauk yang ditaruh diatas wadah yang terbuat dari daun pisang, 4 buah kelapa muda dan sepasang daun pisang muda, masing-masing sudut dari nampan tersebut digantungkan rangkaian bunga melati. (Suryo Negoro, 2001:82)

10
Bentuk gunungan perempuan mirip dengan bokor atau piala dalam ukuran besar. Pada bagian dasar lebih kecil dari bagian atas, mirip dengan bentuk piala yang diletakkan terlentang, sedang dari bagian atas yang paling lebar itu ke puncak, membentuk keruncut yang tidak runcing, nampak seperti tutup piala tersebut. Bagian yang kelihatan seperti tangkai pegangan tutup piala inilah yang disebut mustaka gunungan perempuan itu. Mustaka gunungan perempuan itu berbentuk seperti gunungan wayang kulit, diberi tangkai panjang, dan diikatkan dengan tiang yang mencakup pada asdhumpal. Disekitar mustaka berbentuk gunungan wayang tersebut diikatkan 60 buah ilat-ialatan, yang masing-masing bertangkai. Bagian tubuh gunungan perempuan tersebut ditutup dengan kulit batang pisang, yang disusun berjajar berdiri, dengan bagian yang cekung terletak di bagian dalamnya. Pada tubuh gunungan inilah, di sana-sini digantungkan hiasan, ialah 4 buah eblek dan 11 buah tedheng, yang digantungkan dengan tali-tali. Agar gunungan putri (perempuan) ini dapat kuat melekat pada dhumpal, maka tiang kuat ditancapkan kuat-kuat pada dhumpal yang merupakan kaki gunungan. Pada bagian dasar tiang itu, ditaruhlan sebakul wajik. (Suryo Negoro, 2001:83). Gunungan bentuknya seperti tubuh gender ialah yoni. Oleh sebab itu dinamakan “gegenderan”. Segala sesuatu tidak berbeda dengan gunungan laki-laki di atas. Antara gunungan laki-laki tersebut terdapat anak-anakan yang dinamakan “saradan”. Jodhang yang dipergunakan untuk mengusung gunungan tersebut diberi hiasan yang mengandung makna tersendiri, serta mempunyai arti simbolis, antara lain diberi kampuh (penutup dari setengah tingginya ke bawah) berupa kain ‘bangotulak’ yang indah, megah dan berwibawa itu.
Di akhir prosesi, gunungan itu dibawa ke masjid Agung Kauman, yang terletak di barat alun-alun utara Yogyakarta dan sebelum di perebutkan, gunungan terlebih dahulu di Do’akan sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas limpahan berkah. Kemudian 5 gunungan di tinggal di pelataran masjid Agung untuk di perebutkan masyarakat, 2 gunungan lainnya di antar ke kediaman Pakualaman, disana juga akan di perebutkan oleh masyarakat yang sudah menunggu, dan terakhir satu gununagn lagi di bawa ke Bangsal Kepatihan, terletak di sekitaran Malioboro untuk di perebutkan oleh para pasukan atau Bergada keraton Ngayogyakarta.

6
Makna dari acara grebeg mulud di Kasultanan Ngayogyakarta adalah, grebeg sebagai aset budaya yang sudah tidak bisa di pisahkan dengan masyarakat di tanah Mataram (Yogyakarta ataupun Solo), grebeg sebagai alat untuk media sosialisasi sesama masyarakat dan juga sebagai penghubung dan tanda kehamonisan raja dan masyarakatnya. Grebeg juga penanda lestarinya budaya di kasultanan Ngayogyakarta, hal tersebut dapat dilihat dari antusisanya masyarakat untuk mendapatkan berkah dari gunungan yang di percaya mendatangkan berkah.

5

3

Sekilas “kita” tentang Indonesia

Indonesia.. bagitu mendengar kata itu kita teringat akan bangsa yang luhur, lembah manah, penuh kelembutan dan ke-indahan, ya, di awal posting pertama ini indotrev (indonesiantrev) terinspirasi akan semua aspek di indonesia, baik yang asli, atau tidak, baik atau buruk semua terangkum jadi satu. dan pertama kami suguhkan gambar ini:


terinspirasi dari kebudayaan musyawarah kami mendapatkan moment ini, musyawarah tak terbatas ruang dan waktu, dan sebuah budaya yang menjauhkan kita dari perpecahan.